Bonjour Fellas!

Heyy you! Welcome to my World. Thanks for visiting. Do Follow and leave your footprint on my tagboard.
Do not do stupid things that might harm my blog, okeyy! Be nice here.
Just stand up, smile, and say that you can. Look your beyond like you look at the sky. Full of stars, sun or moon that can shining you. Think
God, think your parents, and think your beyond :))
-nabila amiqa -
nabila amiqa diana
|
Owner
Hello! I'm Nabila amiqa diana, a fourten years young and live as Indonesia, Muslim and Indonesia ;).
-nabila amiqa diana-
Citra
Aku menunggumu sore itu, di kala gerimis menerjang. Walaupun aku ragu kau akan datang. Dengan membawa bunga yang aku beli untukmu, aku berpakaian rapi. Menyisir rambutku yang ku cuci sebelumnya. Ku pakai kemeja baruku. Warna merah. Warna yang kata orang menggambarkan perasaan jatuh cinta. Ya, aku sedang jatuh cinta. Jatuh cinta padamu.
Lumayan lama aku menunggu. 2 jam. Yah, 2 jam. Tapi tak apalah, untukmu apapun akan aku lakukan. Jantungku berpacu cepat. Deg deg deg. Aku bisa merasakannya berdetak. Karenamu. Karena pesonamu yang membuat jantungku tidak stabil. Manismu, baikmu, pancaran sinarmu, semua yang ada padamu membuat semua organ di tubuhku bergerak tak wajar.
Akhirnya kau datang. Memakai dress putih dan sweater abu-abu. Sederhana. Tapi aku suka. Sangat suka. Citra. Seperti namamu, citramu terpancar di sore gerimis yang mungkin tak akan kulupa selamanya. Kata-katamu yang kata orang menusuk, tapi menurutku itu manis dan sexy mungkin.
Katamu, kita hanya bisa berteman. Tak lebih. Aku, bagaikan lebah yang butuh sari bungamu. Tapi kau, yang menjadi bunganya, tak rela jika lebah itu aku. Kau tak rela jika yang mengambil sari bungamu adalah aku.
Aku berkata, tak apa. Aku hanya ingin kau tahu perasaanku. Bahwa aku mencintaimu lebih dari apapun. Matamu berkaca-kaca. Aku bilang, tak usah merasa bersalah. Perasaanku adalah milikku. Kau tak berhak menangisinya.
Lalu kau pergi. Meninggalkanku dan sore yang gerimis. Ku buang begitu saja bunga yang telah kusiapkan untukmu. Biarlah bunga itu menjadi saksi bisu kekecewaanku hari itu.
Sakit. Sakit memang. Tapi aku berusaha tersenyum. Berusaha sadar bahwa wanita bukan hanya kau. Dan cintaku terlalu putih untuk dinodai olehmu. Terus aku berfikir seperti itu. Bahwa hatiku terlalu suci untukmu.
Namun tangis yang keluar. Semakin deras dan deras. Mengalir melewati pipiku dan membasahi kelopak mataku.
Aku hanya bermimpi! Bermimpi bahwa kau akan menerima cintaku. Melayang bersamanya. Namun aku tersadar, mimpi hanya mimpi. Dan kau, kau nyata. Dan dalam kenyataan, aku tidak bisa bersamamu.
Apa aku harus terus tidur? Agar mimpi itu terus ada? Agar kau tetap bersamaku..
Sampai akhirnya aku benar-benar terlelap. Membawa kekecewaan hati ini ke dalam tidurku. Membawa kenangan wajahmu ke alam mimpi.
Hari cepat sekali berganti. Namun perasaanku tidak mudah untuk beralih. Beralih meninggalkan wajahmu, dan melupakan semuanya. Tidak. Aku tidak akan melupakan semuanya. Bahkan rasa sakit itu. Rasa kecewa itu. Akan aku bawa sampai aku mati.
Handphoneku berdering siang itu. Saat tugas kuliah menyerangku. Ku baca isi pesan dari Ana, temanku.
Citra kecelakaan. Ia tak sadarkan diri.
Seluruh badanku lemas. Aku hanya memikirkannya. Bagaimana keadaannya? Mengapa hal itu bisa terjadi? Aku tidak ingin mendengar jawabannya! Aku ingin segera menemuinya! Aku ingin segera menggenggam tangannya! Aku ingin melihat wajah cantiknya! Citra, jangan kau pergi. Aku mungkin tidak bisa memilikimu. Tapi izinkan aku untuk terus melihat wajahmu. Dari jauh sekalipun. Kalaupun kau pergi, tolong jangan dengan cara seperti ini. Karena aku, Andi Wijaya, tidak mungkin sanggup untuk melewati hari tanpamu. Tanpa pancaran sinarmu. Tanpa manisnya senyummu, walaupun senyummu bukanlah untukku. Cinta bukanlah sesuatu yang harus dimiliki, Citra..
Beberapa bulan kemudian
Mungkin aku jahat, Andi. Mungkin aku terlalu egois. Mungkin aku hanya berfikir dari sudut pandangku. Aku tidak memikirkan perasaanmu. Rasa kecewamu. Rasa sakitmu. Namun aku juga tidak bisa melawan perasaanku. Bahwa aku mencintainya, bukan dirimu. Bahwa yang ku genggam tangannya, bukan tanganmu. Bahwa yang ku lihat hanya matanya, bukan dirimu. Dan yang ada di hatiku adalah dirinya. Sekali lagi maaf, bukan dirimu.
Terimakasih atas perasaanmu untukku. Atas rasa sayangmu untukku, atas bunga yang selalu harum untukku, untuk hanya menatap diriku, untuk hanya memuja diriku, dan untuk merelakan semuanya untukku.
Seharusnya kau tidak datang siang itu. Harusnya kau tidak menjengukku. Agar kejadian itu tidak menimpamu. Agar kau tidak terbaring lemah di rumah sakit sekarang.
Rasa sesalku bertambah, Andi. Apa kau puas sekarang? Membuatku menderita dengan semua rasa selsalku! Aku semakin benci kau, Andi! Tapi benci ini tak mungkin aku sampaikan sekarang. Disaat kau terbaring di rumah sakit! Sekarang, yang aku ingin kau sembuh. Bangun! Supaya aku bisa memukulmu, melampiaskan rasa benciku karena kau sudah membuatku terlalu banyak menyesal!
- Citra
Nabila Amiqa Diana 27 Agustus 2012
Older Post . Newer
Post
|